Jumat, 17 Mei 2013

MBAK WATI

Mb Wati dan anak-anakku

"Ob, Obi mb wati kangen banget"
"Iya mb Obi juga kangen"
"Obi sehat ya, di sana musim apa, obi makannya gimana,di rumah mb wati tiap hari masak ayam sama sambel tapi ga ada yang makan, Obi sing sukses ya, Obi ati2 ya kalau di jalan, bla..bla..bla..
Sepenggal percakapan Robby anakku yang saat ini sedang menuntut ilmu di Hamburg Germany dengan Mb Wati.
Selalu itu yang di percakapkan antara mereka setiap mereka chating langsung  lewat Videocall. Bisa dipastikan sebagai penutupnya Mb Wati akan bilang,
" Iya Mb Wati engga akan kemana-mana, disini aja sama ibu, mb Wati mau nungguin Obi pulang."
Setelah hape di tutup bisa ditebak mb Wati akan termehek mehek berurai air mata menangisi Obi nya.
Hehehe..So Sweet..

Masih segar dalam ingatanku sore itu hari Sabtu persis 2 bulan setelah menikah saat aq berkebun, menanam bonggol2 kuping gajah kedalam pot, Mb Wati datang.
Sebelumya mb Wati yang kukenal adalah seorang tukang masak di kantin langganan, dekat rumah ibuku, dan sore itu dia datang kerumah kontrakanku di sebuah gang sempit, melamar jadi Asisten Rumah Tangga.
Rasanya seperti rejeki nomplok, aq yang masih pengantin baru, ga suka dan ga bisa masak di datangi Mb Wati yang jagoan masak, Allhamdulillah..sesuatu banget.
Ga pake besok, hari itu juga mb Wati langsung mengambil alih pekerjaan berkebunku.
Dan sejak saat itulah Mb Wati menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga kami, Dia yang memasak, beres-beres rumah, dan setia mendampingi kami dalam suka dan duka.
Ketika Robby lahir dia yang mengasuh, ketika 6 tahun kemudian Ade, anak kedua lahir mb Wati juga yang mengasuh, dan dikarenakan aq lihat  Mb Wati kerepotan mengasuh sekaligus  memasak, beberes dll, akhirnya di datangkanlah silih berganti keponakan mb Wati dari kampung untuk turut membantu.
Kedua anakku mendapat sentuhan kasih sayang Mb Wati (kelak datang keponakannya bergantian,Dewi, Ismail,Yuli dan Sri), Pengasuhan yang tulus ala mereka adalah dengan kata-kata baik, sopan,santun. Dan yang utama Kejujuran  menjadi cermin kepribadian mb Wati dan para juniornya.
Dulu waktu Mb Wati masih punya suami, Mb Wati pulang ke rumah mertuanya seminggu sekali. Tetapi saat Suaminya Mb Wati 3 tahun yang lalu meninggal karena musibah kecelakaan akhirnya Mb Wati memutuskan tinggal bersama kami 24 jam. Akan halnya anak, Mb Wati mempunyai seorang anak laki2 yang sudah menikah dan tinggal di rumah orang tua istrinya dan bekerja di Rumah Istirahat milik kantorku sebagai roomboy.
Bulan Juni ini Robby akan berulang tahun ke 19 tahun, biasanya kalau anak-anakku ulang tahun Mb Wati akan membuat nasi tumpeng komplit dengan lauk pauknya, dan kami akan bernyanyi HBD bersama-sama mengelilingi nasi tumpeng tsb.

Th 2013 persis di 20 tahun usia perkawinanku, dialah yang banyak mengambil alih urusan rumahku, aq tak pernah pusing dengan menu masakan,  dll , mb Wati yang mengatur  pembagian tugas kerja  keponakan2nya. Pokoknya aq tau beres semua urusan rumah.
Dialah dibalik keberhasilan karier dan bisnisku, karena aq bisa bekerja dengan tenang meninggalkan  anak-anakku pada seorang mb  Wati, sosok wanita sederhana, tulus dan jujur. Dialah yang menjadi saksi naik turunnya biduk rumah tangga yang ku arungi bersama suamiku.
We Love Mb Wati.

Published with Blogger-droid v2.0.8