Selasa, 23 November 2010

MOJANG BANDUNG (2)




Pelecehan perempuan secara terbuka dimulai pada masa Asisten Residen Priangan Pieter Sijthoff ketika Willem Schenk seorang pemilik perkebunan kina melakukan pengerahan perempuan cantik Indo-Belanda dari perkebunan Kina Pasirmalang di Selatan Bandung untuk menyemarakan dan melayani para peserta Kongres Pengusaha Perkebunan Gula di Bandung (1896).
Demikian suksesnya peran para perempuan Bandung waktu itu sehingga para peserta kongres memberi Bandung julukan De Bloem der Indiche Bergsteden (Bunga Pegunungan Hindia Belanda).
Kejadian memalukan yang serupa terjadi lagi dimasa setelah kemerdekaan, pada sebuah peristiwa besar yang mengharumkan Bandung ke pentas International yaitu saat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Panitia secara sembunyi-sembunyi dan terselubung ternyata menyiapkan layanan perempuan untuk para anggota delegasi. Layanan panitia yang sangat dicela dan disayangkan oleh banyak pihak. Seorang pekerja seks komersial (PSK) kelas atas yang cukup punya nama di Bandung saat itu sempat harus dirawat di rumah sakit setelah melayani peserta konferensi.
Penuturan Haryoto Kunto ('Nyi Dampi, De Bloem Van Kebon kalapa"; Matra No.82; Yayasan Bapora;Jakarta;Mei 1993) tentang latar belakang, kemunculan Indo Belanda di Perkebunan milik Belanda di sekitar Bandung dan kemunculan bursa seks di Bandung cukup menarik untuk simak.
Sejak berlakunya cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang diberlakukan pemerintah Hindia Belanda antara th 1830-1870, perkembangan perkebunan diwilayah sekitar Bandung berkembang dengan sangat pesat baik dari segi luas dan jenis tanaman. Orang Belanda saat itu menurut peraturan tidak boleh membawa keluarganya dari negri Belanda. Pekerja perkebunan yang bekerja keras dari hari kehari tak terelakan lagi merasa jenuh dan diliputi kerinduan terhadap isteri dan anak yang ditinggal jauh di Belanda. Akhirnya, terjadi hubungan dengan pekerja lokal atau warga sekitar perkebunan dengan status Nyai-Nyai (tanpa perkawinan, hidup bersama). Belasan tahun kemudian terlihat banyak remaja berkulit lebih putih, berhidung mancung, berwajah cantik dan tampan, kemudian dikenal sebagai Indo Belanda. Fenomena ini sebenarnya juga terjadi di perkotaan, tetapi karena penduduk kota cukup banyak, kehadiran mereka tidak terlalu menarik perhatian.