Selasa, 14 Desember 2010

KAMPUNG NAGA




Kampung Naga secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Jarak tempuh dari Kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari Kota Garut jaraknya sekitar 26 kilometer. Untuk mencapai perkampungan Naga Anda harus menuruni tangga yang sudah ditembok (Sunda sengked) berjumlah lebih dari 360 anak tangga yang dibuat berkelok hingga ke tepi sungai Ciwulan dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai ke dalam areal Kampung Naga, yang biasa disebut Kampung Naga Dalam. Sepanjang menyelusuri anak tangga tersebut, Anda akan disuguhi panorama hijau perbukitan, sangat jauh berbeda dengan polusi kosmopolitan yang kerap dihirup di perkotaan. Keunikan lain dari Kampung Naga adalah kekayaan budayanya. Kampung ini merupakan suatu kampung kecil yang penduduknya sangat teguh dan patuh memegang tradisi nenek moyang secara turun-temurun. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan keharmonisasian antara adat-istiadat tradisional bercampur dengan kekentalan ajaran agama Islam yang dipeluk. Apapun yang hendak masyarakatnya lakukan, sang tetua desa akan memutuskannya berdasarkan adat-istiadat dan ajaran agama Islam. Ini dilakukan untuk menghindari pamali (dosa) yang dapat menimbulkan malapetaka menurut kepercayaan setempat.kotaan.
Rumah yang berada di Kampung Naga jumlahnya tidak boleh lebih ataupun kurang dari 108 bangunan secara turun temurun, dan sisanya adalah Masjid, lei (Lumbung Padi) dan patemon (Balai Pertemuan). Apabila terjadi perkawinan dan ingin memiliki rumah tangga sendiri, maka telah tersedia areal untuk membangun rumah di luar perkampungan Kampung Naga Dalam yang biasa disebut Kampung Naga Luar.
Bentuk bangunan di Kampung Naga baik rumah, musollah, patemon (balai pertemuan) dan lumbung padi memiliki bentuk yang serupa. Atapnya terbuat dari daun rumbia, daun kelapa, atau injuk sebagai penutup bumbungan. Dinding rumah dan bangunan lainnya, terbuat dari anyaman bambu (bilik) dengan pintu terbuat dari serat rotan. Keunikan lain tampak pada letak semua bangunan yang menghadap hanya ke utara atau selatan sebagai bentuk kepercayaan mereka dari generasi ke generasi. Selain itu tumpukan batu yang tersusun rapi dengan tata letak dan bahan alami merupakan ciri khas gaya arsitektur dan ornamen Perkampungan Naga.
Semua peralatan rumah tangga yang digunakan oleh penduduk Kampung Naga pun masih sangat tradisional dan umumnya terbuat dari bahan anyaman. Dan tidak ada perabotan seperti meja atau kursi di dalam rumah. Hal ini mencerminkan bahwa Kampung Naga merupakan kampung yang terbelakang atau tertinggal, akan tetapi mereka memang membatasi budaya modern yang masuk dan selalu menjaga keutuhan adat tradisional agar tidak terkontaminasi dengan kebudayaan luar. Bahkan kampung ini menolak aliran listrik dari pemerintah, karena semua bangunan penduduk menggunakan bahan kayu dan injuk yang mudah terbakar dan mereka khawatir akan terjadi kebakaran.